Menanggapi Tarif Telepon yang Semakin Murah.

Beberapa hari yang lalu saya dapat Sms dari operator Axis yang isinya “Mulai besok kamu bisa menelepon ke sesama Axis sesukamu hanya Rp. 1 / nelpon tanpa batas jam tertentu. Pertama di indonesia! Berlaku hingga 31 agustus 2008”. wah bener-bener menghebohkan…. padahal axis termasuk kategori yang masih baru. Pemberani sekali mampu membuat tarif Rp. 1 per nelepon bukan per detik atau pun permenit (meski tarif promo). Operator yang udah lama berdiri aja belum berani kayak gitu, dulu Im3 yang terkenal dengan raja SMS juga menghebohkan dengan menelorkan tarif telepon Rp. 0,01 setelah 90 detik. Setelah mendengar berita itu banyak juga yang migrasi ke IM3, kemudian si XL juga gak mau kalah, di juga ikut melahirkan tarif telepon Rp. 600 sampai puas. Si Im3 juga masih gak mau kalah, lalu dia nelorin lagi tarif Rp. 240 dari jam 11 malem sampai jam 11 siang. Tapi si XL juga gak mau kalah lagi, dia membuat tarif Rp. 50 sampai puas. Wah bener-bener nih, saya pun juga sampai bingung? Apa nanti juga masih mau diturunin lagi, atau sampai tarif nelponnya dijadiin gratis aja ya… heheheh. Itu baru tiga operator saja yang saya sebutkan, belum lagi operator yang lain.

Hal utama yang menyebabkan murahnya tarif telepon tentunya karena beberapa saat yang lalu pemerintah memaksa para operator seluler untuk menurunkan tarifnya, karena di Indonesia tarif telepon termasuk mahal dibandingkan dengan negara-negara lain. Dan mulai saat itulah para operator seluler berlomba-lomba membuat tarif yang menurut pandangan konsumen sangat murah.

Kita sebagai konsumen tentu saja seneng, saat ini sungguh berbeda dengan saat-saat yang lalu. Apalagi para konsumen yang kantongnya pas-pasan, yang dulunya Cuma berani mencetin keypad aja atau smsan, sekarang udah berani nempelin hanphone di kupingnya. Berkomunikasi di mana saja pun dirasakan semakin mudah dan murah.

Karena para operator bersaing dengan tarif yang murah, terkadang kita juga dibikin bingung, ini terutama bagi para konsumen yang mudah tergoda.

Misalnya jika kita pengguna operator A, kemudian kita mendengar ada operator seluler B yang mengeluarkan tarif lebih murah dari pada operator A, kemudian kita tergoda dan beli lagi operator B, setelah beli operator B, eh ada berita bahwa ada operator C yang menawarkan tarif lebih murah dari pada operator A dan B, lalu kita tergoda lagi kemudian kita beli operator C, pas udah beli operator C, wahhh kok si operator A malah turunin lagi tarifnya jadi lebih murah dari pada operator A dan B, jadi bingung kan???… kejadian seperti di atas memang tidak terjadi pada semua orang, tapi pasti ada juga yang seperti di atas. ( ini tidak terjadi pada saya loh ya!!! Heheheh :)) )

Menurunnya tarif telepon juga sedikit merubah gaya pengguna telepon seluler. Misalnya yang dulunya menelepon pada saat ada hal penting saja, sekarang berubah hal yang tidak begitu penting pun juga pengen bicara lewat telepon. Sama temen yang udah tiap hari ketemu di sekolah, pas waktu di rumah juga ditelepon, kalau menanyakan masalah pelajaran atau hal yang penting sih itu wajar. Tapi yang yang dibicarakan gak penting, misalnya “lagi apa lho??? Dah makan belum?? Tadi lauknya pake apa??…. wah bener-bener deh…. ????

Sebenarnya para operator seluler dengan tarif baru secara tidak langsung memaksa secara halus para konsumen untuk sering-sering menelepon, cuma para konsumen terkadang tidak sadar. Dengan anggapan bahwa tarif sudah murah, konsumen pun pengennya telepon aja. Kayak di iklan operator fren di layar tv yang ceritanya karena sangking murahnya freen para konsumen ngobrol sampai bibirnya dowerrrr. Coba kita berfikir sedikit aja, gak usah banyak-banyak, misalnya IM3 dengan Rp 240, seorang konsumen nelpon YANG TIDAK PENTING sampai beberapa kali dalam sehari, misalnya dalam sehari 20 kali, kalau dihitung Rp. 240 x 20 = Rp. 4800. Kalau dalam seminggu tinggal kali aja Rp. 2400 x 7 = Rp. 33.600. ( tarif im3 di atas untuk sesama operator IM3, jika berbeda lebih mahal sedikit). Pengeluaran yang lumayan, kalau untuk ukuran orang menengah ke atas sih tidak masalah, tapi kalau yang masih pra sejahtera mungkin perlu dipertimbangkan.

Agar tidak terjadi seperti hal-hal di atas, kita sebagai konsumen harus bisa bersikap bijaksana. Ingatlah tujuan utama kita membeli produk operator seluler sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi kita dan tentunya dengan mudahnya komunikasi akan memudahkan aktifitas kita. Kita jangan mudah termakan oleh persaingan tarif operator seluler yang semakin murah. Tidak perlu mikir tujuh keliling untuk memilih operator seluler yang cocok dengan kita. Saran saya pakai aja operator seluler yang banyak di pakai oleh orang-orang terdekat kamu, misalnya seperti temen-temen, ayah, ibu, saudara… karena dengan operator yang sama dengan orang-orang terdekat kita, nanti pada saat kita menelepon mereka tarifnya tidak mahal. Dan meneleponlah pada saat penting saja. Kalau saya perhatian semua operator perbandingan tarifnya tidak terlalu jauh. Terkadang para operator seluler memberikan tarif yang sangat menggiurkan murahnya hanya pada masa promosi aja, contohnya seperti IM3, dulu tarif Rp. 240 bisa nelepon sampai buas banget, eh sekarang Cuma dapet 5 menit. Lagi pula kalau kita ganti-ganti nomor hape, ntar yang repot juga orang-orang yang mau menghubungi kita kan.

Facebook Comments

3 comments

  1. Wawan

    Emang awal nya IM3 murah… tp lama2 mahal & nyedot pula banget, masa’ pulsa gue Rp 4000,- di pake tlp kisaran 1 menit disisain pulsa Rp 1 gila ngak tuh… ajib2 parah bener

  2. Pingback: Iklan | Iklan Gratis | Iklan Baris Gratis | Ads | Free Ads | Free Classifieds Ads

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *