Perpaduan Budaya Islam dan China di Makam Sunan Gunung Jati

Makam Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati adalah salah satu anggota Wali Songo. Wali Songo yaitu sembilan tokoh yang berperan penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Sunan Gunung Jati yang kita kenal saat ini adalah Sunan Gunung Jati II, murid dari Sunan Gunung Jati I. Tahun lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu tempat wisata di Cirebon yang berupa makam Sunan Gunung Jati II.

Makam Sunan Gunung Jati

Lokasi makam Sunan Gunung Jati I berada di atas sebuah bukit. Bila kita berkunjung ke makam Putri Ong Tien, maka lokasinya berada sebelah timur. Sebaliknya, makam Sunan Gunung Jati II, lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati saja, terletak di kompleks masjid dan makam tersendiri, terpisah dari makam gurunya. Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah.

Menurut Wikipeda, Sunan Gunung Jati adalah ulama yang juga seorang pemimpin negara. Sunan Gunung Jati memimpin Keraton Kasepuhan Cirebon saat berlangsungnya era kolonialisme Portugis di tanah Banten. Selain itu, beliau pernah menyiarkan agama Islam di China dan memiliki seorang isteri keturunan China. Isteri Sunan Gunung Jati tersebut bernama Puteri Ong Tien.

Masuknya unsur budaya China bisa kita lihat pada bangunan makam Sunan Gunung Jati dan makam Putri Ong Tien. Saat saya berkunjung kesana, saya bisa melihat perbedaan makam tersebut dibanding makam anggota Wali Songo lainnya, yaitu etnik China. Makam wali sembilan lain tidak ada unsur budaya China yang tampak pada seni arsitektur bangunan. Pada dinding makam Sunan Gunung Jati tertempel puluhan piring berukir huruf mandarin dari China.

Kompleks makam Sunan Gunung Jati di Cirebon bukan hanya dikunjungi oleh umat muslim. Warga China yang beragama Konghucu dan Budha pun banyak yang berziarah ke sana. Meski demikian, terdapat bagian ruang khusus untuk warga Muslim agar saat berdoa tidak bercampur dengan pemeluk Konghucu yang sedang beribadah. Lokasi berdoa untuk umat muslim terletak agak jauh ke ke dalam, melewati jalan sempit rumah penduduk setempat.

Wisata religi yang saya ikuti di makam Sunan Gunung Jati bisa berjalan lancar dan tenang. Walau di aula sebelah tercium bau dupa yang terbakar, namun hal itu bukan halangan bagi umat muslim untuk beribadah. Budaya Islam dan Konghucu memang tampak seperti dua hal yang tidak bisa bersatu. Namun di Cirebon kita menyaksikan toleransi beragama bisa berjalan selama ratusan tahun tanpa menimbulkan masalah yang cukup berarti. Mari jelajahi kekayaan budaya Nusantara! (Agus)

Referensi: http://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Gunung_Jati

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *